foto ilustrasi

Suara angin malam menyusup lembut melalui jendela kamarku, menyentuh wajahku yang pucat. Hatiku hancur, dan setiap hembusan angin seolah-olah meresapi luka yang terdalam. Pikiranku melayang padamu, cinta yang tak pernah pudar meski dirimu telah lama tiada.

Saat ini, ruang hatiku terasa sunyi, terisi oleh kehampaan yang sulit diungkapkan. Aku masih mencintaimu, lebih dari yang mampu kuucapkan dengan kata-kata. Meski waktu terus berjalan dan dirimu pergi ke alam yang tak terlihat, cinta ini masih melekat erat dalam setiap detak jantungku.

Aku ingat betul hari-hari ketika kita bersama, tertawa dan berbagi impian. Namun, kini hanya kenangan yang tersisa, menghiasi ruang kosong dalam hidupku. Setiap sudut rumah ini penuh dengan bayanganmu, dan aku tak pernah bisa melepaskan genggaman kenangan yang membelenggu jiwaku.

Aku tahu bahwa hidup harus berlanjut, tapi aku tak sanggup melangkah maju. Kehadiranmu masih membayangi setiap keputusan dan langkahku. Kita telah berjanji untuk saling mencintai selamanya, tapi takdir memisahkan kita dengan kejam. Menikah lagi? Hanya sebatas impian yang tak pernah terwujud.

Setiap kali aku melihat foto-foto kita bersama, tangisanku sulit terbendung. Aku merindukan senyumanmu, hangatnya pelukanmu, dan suara tawamu yang mengalun di telingaku. Hatiku hancur setiap kali aku menyadari bahwa semua itu hanya tinggal kenangan yang tak akan pernah kembali.

Pernikahan adalah janji suci yang kita lalui bersama, tapi kini, aku terjebak dalam ambang antara masa lalu dan masa depan. Aku takut melangkah maju, takut membuka pintu hatiku untuk cinta yang baru. Meski orang-orang di sekitarku berusaha meyakinkanku bahwa hidup harus terus berlanjut, aku masih terpaku pada bayanganmu.

Aku mencintaimu, dan mencintaimu berarti aku harus membiarkanmu pergi. Tetapi bagaimana mungkin aku menikah lagi, membuka pintu hatiku untuk orang lain, ketika dirimu masih menjadi bagian dari setiap detak jantungku? Pernikahan kedua mungkin adalah pilihan bijak bagi sebagian orang, tapi bagiku, itu hanya akan menjadi pengkhianatan terhadap cinta yang selalu kupegang erat.

Malam ini, aku duduk sendiri di sudut kamarku, membiarkan suara angin malam menjadi teman kesendirianku. Aku bertanya-tanya apakah aku pernah bisa melupakanmu, apakah aku bisa melepaskan genggamanmu dari hatiku. Aku mencintaimu, tapi aku juga tahu bahwa aku harus belajar melepaskan agar aku bisa hidup dengan damai.

Mungkin suatu hari nanti, ketika hatiku sembuh dan kenangan tentangmu tak lagi menyakitkan, aku akan mampu membuka hatiku untuk cinta yang baru. Tapi untuk saat ini, aku hanya bisa duduk di sini, dalam kehampaan dan kesedihan, mencintaimu dengan segala kekuatan yang tersisa, meski aku tak sanggup menikah lagi.

Dapatkan berita terbaru di Sebaran.com